MERENCANA LAHAN PERKOTAAN BERBASIS EKOLOGIS DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH


By. Abdul Wahid Hasyim

Lahan-lahan strategis di perkotaan umumnya dipengaruhi oleh nilai lokasi, yang direfleksikan menjadi harga lahan yang tinggi. Berbagai macam fungsi kegiatan dapat dilakukan diatas lahan strategis diperkotaan misalnya fungsi perumahan, perkantoran, perdagangan, dan pendidikan. Pada akhirnya terjadilah efisiensi lahan perkotaan, disinilah peran UURI Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang untuk mengendalikan segala bentuk efisiensi lahan yang bertentangan dengan fungsi guna lahan yang telah ditetapkan, agar terwujud ruang kota yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Fungsi Lahan dan aspek ekologis

Pertumbuhan penduduk di kota-kota besar di Indonesia cenderung meningkat. Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pada 1980 jumlah penduduk perkotaan mencapai 32,8 juta jiwa atau 22,3 persen dari total penduduk nasional. Pada tahun 1990 angka tersebut meningkat menjadi 55,4 juta jiwa atau 30,9 persen, yang kemudian menjadi 90 juta jiwa atau 44 persen pada tahun 2002. Angka tersebut diperkirakan akan mencapai 150 juta atau 60 persen dari total penduduk nasional pada tahun 2015 (Direktur Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum, 2006). Artinya, dengan keterbatasan ketersediaan lahan yang tidak pernah bertambah kota harus mampu menampung kebutuhan akan sarana dan prasarana kota terkait dengan penyediaan kawasan hunian, fasilitas umum dan sosial serta ruang-ruang terbuka publik di perkotaan.
Tuntutan pembangunan kota yang tinggi dan mendesak serta sulitnya kebutuhan pemerintah memperoleh lahan kota dengan harga, lokasi, dan waktu yang tepat menjadikan pembangunan tersebut sulit terwujud sehingga sering diartikan sebagai ketidakpedulian pemerintah terhadap warganya, misalnya kebutuhan penyediaan rumah murah di kota, penyediaan lahan bagi PKL (pedagang kaki lima) terpusat di kota, penyediaan taman-taman bermain, dan lain sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak tersebut, sering dijumpai inisiatif warga yang melanggar penggunaan lahan tanpa memperdulikan lagi fungsi lahan yang seharusnya, misalnya pemanfaatan sempadan sungai untuk pemukiman, pemanfaatan badan jalan untuk mangkalnya PKL, penutupan badan sungai untuk kios, warung dan sebagainya.
Ketidakpedulian warga terhadap fungsi lahan adalah bentuk manifestasi dari sulitnya hidup di kota, dan tidak ada pilihan lain dengan mengedepankan aspek ekonomi dan melupakan aspek ekologisnya. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan melanggar aspek ekologis fungsi lahan yang seolah-olah tidak berarti pada jangka pendek suatu saat berbalik menjadi hal yang mengerikan bisa mengancam kehidupan manusia, misalnya bencana tanah longsor, banjir, sulitnya air bersih, dan perubahan suhu kota.

Teknologi Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh atau disingkat inderaja, dan dalam bahasa inggrisnya Remote Sensing, adalah upaya memperoleh informasi tentang objek di permukaan bumi dengan menggunakan alat yang disebut sensor (peraba), tanpa berhubungan langsung dengan objek yang diamati. Kemampuan sensor sangat dipengaruhi oleh resolusi dalam merekam suatu objek. Sehingga apabila tingkat kepekaan dan ketajaman resolusi suatu citra (gambar hasil penginderaan) itu tinggi akan menghasilkan interpretasi yang akurat, terutama diperlukan untuk objek yang menuntut kedetailan tinggi seperti kebutuhan untuk teknis perencanaan kota, misalnya; pemetaan persil lahan dan bangunan, pemetaan kontur (tinggi-rendahnya permukaan tanah) untuk menentukan kegiatan ruang pada perencanaan suatu kawasan, dan lain sebagainya. Saat ini pemanfaatan penginderaan jauh di Indonesia sudah sangat pesat, antara lain untuk mendeteksi datangnya bencana alam, sebaran sumber daya alam, perubahan iklim, arah angin, sebaran ikan di laut, pertumbuhan kota, dan lain sebagainya.
Teknis penginderaan jauh dapat dikelompokkan menjadi dua macam yakni, citra penginderaan jauh dengan menggunakan pesawat terbang yang disebutnya sebagai foto udara, dan citra penginderaan jauh dengan satelit atau dikenal sebagai citra satelit. Mana diantara keduanya yang dipilih? Pertanyaan ini sering kali ditemui diberbagai diskusi maupun perkuliahan. Adalah sangat tergantung dari tujuan studi yang akan dilakukan. Untuk kepentingan perencanaan dengan cakupan luas dan tidak menuntut kedetailan informasi tinggi misalnya, identifikasi pola sebaran guna lahan perkotaan, pemetaan bangunan/ inventarisasi bangunan, sebaiknya memilih citra satelit dengan pertimbangan waktu yang lebih singkat dalam perekaman citra, tidak rumit dalam perijinan, dan murah dibandingkan pemotretan udara. Sedangkan, untuk rencana teknis guna lahan di perkotaan, dan perencanaan drainase di perkotaan memerlukan informasi lebih rinci guna mengetahui tinggi dan rendahnya kontur, harusnya memilih foto udara karena memiliki skala besar hingga 1:1000.
Namun demikian, citra satelit memiliki keunggulan pada informasi radiometri-nya (kemampuan baca dengan multiband sehingga sensor dapat menunjukkan karakteristik objek) yang bermanfaat untuk mengenali karakteristik lingkungan hidup atau struktur geologi suatu tempat (BAKOSURTANAL, 2008 )

Merencana guna lahan ekologis

Menurut Prof. Emil Salim (Kompas, 2006), saat ini Indonesia masih mengutamakan pembangunan di bidang ekonomi, sedangkan konsep pembangunan berkelanjutan memerlukan pendekatan segitiga: ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Kebijakan pembangunan Indonesia, yang mengandalkan mekanisme pasar, membuat posisi lingkungan hidup terdesak ke pinggir karena sinyal lingkungan tidak tertangkap oleh pasar.
Upaya pengelolaan lahan perkotaan berbasis ekologis, adalah salah satu bentuk penataan ruang di perkotaan yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kualitas lingkungannya. Terdapat empat langkah yang perlu diperhatikan, sebelum menentukan atau menetapkan guna lahan ekologis di perkotaan (catatan kuliah Interpretasi Citra oleh Dr. Ir. M.Taufik, ITS, 2008); 1. Land Cover (tutupan lahan yang terlihat secara fisik di permukaan bumi), 2. Land Unit (mengidentifikasi karakteristik lahan), 3. Land Suitable (klasifikasi kemampuan lahan berdasarkan topografi, hidrologi dan klimatologi), 4. Land Use (setelah melalui proses cukup panjang barulah menetapkan guna lahan berdasarkan kegiatannya).
Akhirnya inkonsistensi penataan ruang dapat diminimalisir, dan aspek ekologis guna lahan dapat dipertahankan bisa diwujudkan berupa RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang lebih luas lagi bukan sebaliknya akibat perluasan bangunan untuk kepentingan ekonomi semata. (Harian Surya 20/9/08)

14 Comments

Filed under Manajemen Lahan

14 responses to “MERENCANA LAHAN PERKOTAAN BERBASIS EKOLOGIS DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH

  1. andai kota DaboSingkep saya bisa dialokasikan pembangunan mungkin gk sesepi sekarang ini

  2. Salam kenal bung Dinoe. Dari citra satelit PSingkep sepertinya terjaga betul alamnya, dan konsep pembangunannya sepertinya mengarah kesana. DaboSingkep yang +/- 4km dari pantai, masih sangat mungkin bisa menjadi besar karena pengaruh pantai alaminya yang bagus (dilihat dari datanya, banyak turis manca yang datang ya?). Dalam pengembangannya, perlu dilakukan pemetaan potensi kawasan dulu, sehingga rencana pembangunannya tidak mengganggu alamnya yang indah tadi. Salam buat P-Singkep.

  3. M. Abd. Tsani

    Pak Saya tertarik sekali dengan tulisan ini,… boleh saya berpendapat.

    Benar kata Prof. Emil Salim pembangunan di NKRI ini masih mengutamakan bidang ekonomi, dimana salah satunya penataan ruang yang tercermin dalam Rencana TGL yang pada mulanya sudah mempertimbangkan (/belum) konsep Sustainable, ternyata masih mudah dipatahkan oleh pengambil kebijakan yang mengutamakan lingkup “hitung-hitungan” ekonomi dalam action plan nya.

    Rencana Tata Ruang (TGL) nampaknya tidak begitu bermakna jika tidak bisa diterapkan oleh “user” (dalam hal ini pemerintah daerah/ sebagai decision maker), entah karena ketidaktahuan, ketidakmampuan, kepentingan yang pragmatis dan bersifat individual.

    Semoga dengan regulasi yang baru ini (UURI Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang) : terutama model pengaturan zona/ “zoning regulation” akan membuat Indonesia semakin baik…

  4. Terimakasih mas Tsani mengunjungi blog saya yang belum sempat saya update lagi. Yang disampaikan mas Tsani adalah real-nya dan sampai saat ini masih menjadi bahan diskusi terus menerus hingga lahirlah UURI Nomor 26 Tahun 2007, yang merupakan penyempurnaan2 UU sebelumnya sekalian untuk mempertegasnya melalui sangsi2 yang telah ditetapkan. Smoga saja UU tidak sekedar macan saja tanpa pemahaman dan pelaksanaan tata ruang yang benar, dan bukan menjadi macan ompong karena hanya mengaum begitu kerasnya. salam.

  5. putri

    salam kenal…
    saya mahasiswa geografi. saya sedang mencari bahan skripsi. saya tertarik dengan
    “urban heat island dan hubungannya dengan ruang terbuka hijau menggunakan aplikasi pengindraan jauh”
    tapi, yang saya tanyakan apakah ini berarti ada hubungannya dengan tata ruang yah?
    kalo dari artikel yang mas buat, sepertinya sih begitu.

  6. salam kenal kembali , putri..
    untuk kasus diatas ‘uhi dan rth’ memang untuk keperluan perencanaan tata ruang, nantinya berkait dengan kegiatan diatas lahan dan guna lahannya. tetapi, dengan aplikasi inderaja juga bisa dibuat riset lebih variatif tidak selalu menghasilkan tata ruang tergantung tujuan studinya.
    selamat belajar…

  7. ratih

    asslmkm pak,buku terkait pengelolaan guna lahan dengan basis ekologis ada gak pak???
    kalau ada mohon infonya ya pak.

  8. ratih

    asslmkm pak, Buku terkait pengelolaan guna lahan secara ekologis apa saja pak???komponen-komponen dalam guna lahan berbasis ekologis itu apa saja y???
    kalau ada mohon infonya ya pak.

    • waalaikumsalam ww. ratih, sesuai prinsip dasar ekologi, adalah terdapat hubungan timbal balik mahluk hidup dengan lingkungannya, yang didalamnya terdapat unsur hayati dan nir-hayati tentunya pemanfaatan guna lahan nantinya tidak mengganggu sistem tersebut. Buku2 maupun riset cukup tersedia, yang paling mudah coba gunakan mesin pencari dengan tema ‘pengelolaan lahan kota berbasis ekologi’. buku yang saya gunakan salah satunya “Richard J. Aspinall and Michael J. Hill [editors], (2008),” Land use change : science, policy, and management”, Taylor & Francis Group, FL.

      salam.

  9. ayuma

    yth. bpk wahid. saya ingin bertanya bagaimana tahapan merencanakan guna lahan berbasis ekologis?dr tulisan bapak terdapat empat langkah yang perlu diperhatikan, sebelum menentukan atau menetapkan guna lahan ekologis di perkotaan (catatan kuliah Interpretasi Citra oleh Dr. Ir. M.Taufik, ITS, 2008); 1. Land Cover (tutupan lahan yang terlihat secara fisik di permukaan bumi), 2. Land Unit (mengidentifikasi karakteristik lahan), 3. Land Suitable (klasifikasi kemampuan lahan berdasarkan topografi, hidrologi dan klimatologi), 4. Land Use (setelah melalui proses cukup panjang barulah menetapkan guna lahan berdasarkan kegiatannya).
    yang saya ingin tanyakan bagaimana hubungan antara keempatnya, keberlanjutan dari mengetahui tutupan lahan dalam perencanaan guna lahannya bagaimana?dan untuk karakteristik satuan lahan bisakah yang dipakai hanya kelerengan, curah hujan dan jenis tanah saja?mohon penjelasannya.saya tidak ingin rancu dan hanya menebak saja.untuk itu mohon tunjuk ajarnya pak.

    • Terimakasih tanggapannya ayuma. 4 langkah yang dimaksud tersebut merupakan aspek mendasar yang erat hubungannya dan harus diikuti sebelum mengikutkan aspek lainnya yang dibutuhkan (tergantung tujuannya, misalnya untuk kepentingan perkotaan ataukah pertanian atau lainnya..). Untuk perkotaan misalnya, memperhatikan lokasi strategis, prasarana dan sarana kota, fasilitas kebutuhan seperti pasar, pendidikan dll, lingkungan misalnya memperhatikan pencemaran, kebisingan, kepadatan penduduk dll. Semoga membantu.

      Salam.

  10. Assalamualaikum bapak……….
    smoga bisa menjadi acuan pihak2 yg berkepentingan dg intip mengintip……hehehe
    kayaknya saya perlu banyak belajar masalah ini bapak!
    lanjutkan bapak.
    salam
    NB. boleh tahu hp nya bapak? mungkin saya bisa kontak langsung pd bapak.Tks

    • waalaikumsalam wr.wb bapak…
      terimakasih telah mampir di blog sederhana saya. monggo masuk saja pak yudhi tidak usah mengintip hehehe….PakYudhi bisa aja, pake ilmu padi ya pak..? Maksudnya jenis hp yang saya pake pak…:)? klo no hpnya sudah saya japri.

      salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s