Bengkel

Oleh: Abdul Wahid Hasyim

Biasanya bengkel selalu identik dengan perangkat/ perkakas alat dan berbagai pernak-pernik pengolah suatu objek, dan benda atau barang dalam kondisi masih dalam tahap konstruksi, renovasi, bahkan upgrading atau bahkan hanya sekumpulan barang setengah jadi yang teronggok begitu saja karena dianggap telah selesai meskipun belum dikemas kembali dengan rapi dengan alasan “entar-entar ajalah” kan dah ketahuan hasilnya untuk sementara waktu….atau karena tidak dapat dipakai lagi sehingga harus di develop atau rebuilt terlebih dahulu, dan  sambil lalu menyentuh objek lain yang dianggap lebih menantang atau mungkin ada pekerjaan lain yang diuber-uber dead line semisal proyek , riset, tugas sekolah yang belum selesai….Bengkel yang satu ini khususnya menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan dan perencanaan guna lahan perkotaan (urban land use planning and management), model pertumbuhan kota (urban growth modeling), dan penginderaan jauh perkotaan (urban remote sensing). Metode penanganannya menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing), GIS, statistik, dan standar-standar perencanaan yang berlaku.

Tidak jarang kita menggunakan teknologi penginderaan jauh untuk keperluan analisis. Beberapa langkah umum yang dilakukan adalah mengolah citra (image processing) terlebih dahulu. Dalam proses ini, salah satu langkah penting adalah melakukan koreksi geometrik atau rektifikasi yang merupakan proses transformasi unsur-unsur spasial sedemikian rupa hingga tiap pikselnya memiliki posisi didalam sistem koordinat di dunia nyata. Langkah ini bisa menjadi yang paling sulit diantara proses pengolahan citra, makanya tidak jarang untuk memecahkan masalah koreksi dilakukan dengan membeli citra yang telah terkoreksi, konsekuensinya harus ditebus dengan harga lebih mahal😦.

Beberapa contoh koreksi geometrik yang gagal akibat, kesalahan pada proses geocoding:

sampangrecti-1 Gambar-1. hasil rektifikasi yang salah

Dari gambar-1, proses geocoding (datum, proyeksi peta, sistem koordinat) diperiksa lagi apakah tidak ada yang salah pada inputan-nya. Setelah dianggap aman saja atau tidak bermasalah dengan inputan-nya , selanjutnya yang mendapat perhatian adalah jumlah GCP (dilakukan penambahan jumlah) dan sebarannya (tidak terpusat), hasilnya sebagai berikut:

cetak-1

Gambar-2. hasil rektifikasi setelah dilakukan penambahan GCP

Pada gambar-2, meskipun rektifikasi ini belum tepat setidaknya distorsi sudah berkurang dan terlihat pada interpretasi permukaan lahan (land cover) yang berbentuk kipas adalah tambak garam masih mengalami distorsi, perlu dilakukan rektifikasi ulang. Bagi yang telah berpengalaman kepekaan mengatasi terjadinya distorsi pada proses rektifikasi tentu lebih cepat dan mudah dalam menempatkan jumlah dan sebaran GCP pada citra yang akan dikoreksi untuk memperoleh hasil rektifikasi yang diharapkan, namun istilah “gampang2 sulit ato sebaliknya” tidak jarang juga ditemui bagi yang telah memiliki jam terbang tinggi (Sumber: Nur Hidayat, Deputi Penginderaan Jauh, wawancara, 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s